Laman

Rabu, 08 September 2010

PELAJARAN KETIKA DIPUTUSIN PACAR

Siapa sih yang suka diputus pacar? Mengapa tidak semua orang langsung ketemu soulmate, menikah dan hidup bahagia selama-lamanya? Mengapa harus ada perselisihan, pertengkaran, putus cinta, patah hati dan sakit hati?
Jawaban dari pertanyaan diatas sama dengan jawaban untuk pertanyaan: mengapa kita harus hidup di dunia ini kalau hanya untuk susah? Mengapa Tuhan mengijinkan penderitaan? Dan saya rasa semua orang sudah tahu bahwa salah satu jawabannya adalah karena kita datang ke dunia ini untuk belajar, to attend the school of life.
Jadi, pelajaran apa yang bisa kita ambil dari peristiwa diputusin pacar? Saya rasa banyak sekali. Diantaranya adalah:


1. Berdamai dengan ketertolakan.


Bagaimana mungkin? Ditolak itu kan sakit! Memang, tetapi sayangnya semua orang mau tidak mau harus mengambil pelajaran yang bernama ketertolakan (rejection) ini. Mari kita ingat-ingat dalam situasi apa saja kita pernah ditolak? Kalau tidak ditolak pacar, ya ditolak perusahaan seperti lamaran tidak diterima, dipecat, dimutasi ke tempat yang tidak menyenangkan, orang lain yang dipromosikan padahal kita merasa lebih capable, dsb. Atau melalui interaksi kita dengan orang lain dalam kehidupan sehari-hari seperti ide kita ditolak, perasaan kita diabaikan, permintaan kita tidak ditanggapi, tidak diterima oleh kelompok yang ingin kita masuki karena dianggap tidak selevel, dsb. Bisa juga ditolak orang tua – diperlakukan seperti anak tiri, pendapatnya tidak dihargai, tidak diterima seperti apa adanya, dibeda-bedakan, diusir, dll.
Intinya adalah, meskipun seandainya kita tidak pacaran, kita tetap akan bertemu dengan yang namanya ketertolakan. Sementara itu kalau kita telah mempelajarinya ketika pacaran, pengetahuan yang kita dapat akan berguna bukan hanya dalam kehidupan per-cinta-an tetapi bisa kita pakai di dunia kerja maupun dalam kehidupan sehari-hari.


Bagaimana caranya berdamai dengan ketertolakan?


Di dunia ini, penolakan adalah hal yang biasa. Artinya, semua orang pasti pernah mengalaminya dan bagi yang belum, ini hanya masalah waktu saja. Egolah yang mengatakan bahwa ini hal yang luar biasa. Ego yang tugas utamanya melindungi gambar diri tuannya melihat penolakan sebagai ancaman karena mengandung pesan bahwa tuannya tidak lagi yang terbaik. Perhatikan kalimat-kalimat yang muncul di kepala ketika kita ditolak, “Emang kurangku dimana sih?” “Aku mesti gimana lagi, semuanya sudah kulakukan!”, “Dia ga’ pernah mau melihat kelebihanku, yang dilihat cuma kekuranganku mulu.” “Sebegitu burukkah penampilanku?” dsb.
Hati kita tidak akan bisa tenang kalau pikiran kita termakan oleh kekhawatiran ego. Berhati-hatilah, karena semakin kita ikuti kata-katanya, semakin dalam kita mengecilkan diri sendiri- “Memang sudah nasibku begini,” “Aku dilahirkan memang hanya untuk disakiti,” “Semua usahaku sia-sia. Aku memang ditakdirkan untuk gagal,” “Aku memang ngga’ bakalan bisa berhasil,” “Emang aku ini pembawa sial,” dan lebih parah lagi kalau kita mulai mengecilkan kasih Tuhan; “Kok Tuhan tega sih membiarkan ini terjadi?” “Tuhan jahat. Percuma saja tiap hari aku berdoa,” “Tuhan tidak peduli,” “katanya Tuhan mengasihi umat-Nya, mana buktinya?” dsb.
Saya tidak mengatakan ego itu jelek. Kita justru wajib berterima kasih karena kerajinannya dalam mengingatkan kita ketika dirasanya ada bahaya. Hanya saja kalau kita biarkan ia memimpin, kita akan dikuasainya. Dan ini berbahaya karena ego hanya bisa mengenali bahaya tetapi tidak memiliki jalan keluar karena itu kata-katanya selalu menyuarakan ketakutan. Mengikuti jalan pikiran ego tidak akan pernah bisa memecahkan masalah. Sebaliknya, akan membuat kita semakin panik. Lama-lama stress atau depresi dan kalau sudah kalut sekali bisa-bisa bunuh diri. Jadi sekali lagi, hati-hati.
Beberapa langkah untuk berdamai dengan ketertolakan.


a. Tenangkan pikiran. Pada awalnya pasti sangat susah. Hati yang tertolak adalah seperti rumah yang sedang digoyang badai. Tidak stabil dan sepertinya sangat mudah ambruk. Dalam situasi seperti ini sangat dianjurkan untuk tenang. Tidak perlu melakukan apa-apa. Kalau masih belum bisa menguasai pikiran (maunya cari-cari kesalahan dan kejelekkan dia) dan perasaan masih sulit dikendalikan (pinginnya njerit, marah, nangis, tersinggung, kecewa, dsb) tidak apa-apa. Ini proses wajar. Semua orang yang tertolak mengalami hal yang sama. Yang penting, jangan mengambil keputusan untuk melakukan sesuatu, apalagi mencari pacar pengganti. Ini berbahaya. Berusaha memecahkan masalah dalam keadaan seperti ini adalah seperti berusaha menegakkan rumah yang sedang digoyang badai. Percuma dan bisa jadi malah membuatnya semakin cepat roboh. Lebih baik cari cara untuk menenangkan diri sambil menunggu badai reda.


b. Setelah tenang, mulailah menata hati dan pikiran. Hentikan usaha untuk mencari siapa yang salah dan siapa yang benar. Percaya bahwa jika Allah mengijinkan hal ini terjadi pasti Allah mempunyai rencana yang baik untuk kita. Terima kenyataan bahwa ditolak itu sakit dan ijinkan kita merasakannya. Jangan ditengking dan jangan dihindari tetapi kita hadapi saja karena justru disinilah pelajarannya. Bapa kita yang baik ingin mengajarkan kepada kita bahwa kita dirancang untuk menguasai perasaan kita. Artinya, seberapa pedih dan sakit perasaan itu, Bapa menjamin bahwa kita tidak akan bisa dikalahkannya. Karena itu, untuk mengetahui bahwa kita memang lebih besar dari perasaan kita, mari hadapi saja. Percayalah, ketika kita ijinkan diri kita merasakan sakit hati ini dengan tenang, kita memegang kendali atas perasaan tsb. Kita akan melihat bahwa penolakan itu memang menyakiti hati tetapi tidak menguasai pikiran apalagi mendikte langkah kita.


c. Berdoa dan mengucap syukur karena telah diijinkan mengalami hal ini. Sakit yang kita rasakan mengajarkan kita banyak hal, salah satunya adalah kasih. Orang yang sudah tahu sakitnya ditolak dan berhasil menguasai perasaan ini biasanya lebih bisa memahami mereka yang mengalami hal yang sama. Ia akan gampang bersimpati, sabar dan tidak mudah menghakimi ketika melihat saudaranya masih bergumul dengan perasaannya.


d. Sama sekali tidak dianjurkan untuk melarikan diri dari persoalan dengan cara menyibukkan diri atau melakukan hal-hal yang bisa mengalihkan perhatian karena ini berarti kita menghindari pengalaman tersebut, kecuali kita memang sama sekali tidak siap untuk melihat pengalaman ini. Tetapi jangan terlalu lama. Sekali lagi, ini adalah mata kuliah yang harus kita ambil di sekolah kehidupan ini. Meskipun hati kita bisa agak terhibur, lari dari persoalan sama saja dengan menunda pelajaran yang sudah dirancang dan diberikan kepada kita. Cepat atau lambat kita pasti akan mengalami lagi, dengan pelajaran yang mungkin lebih susah atau lebih menyakitkan.


2. Memperbaiki Gambar Diri


Pacaran adalah alat yang sangat cocok untuk mengetahui konsep gambar diri kita yang sebenarnya. Ini terlihat dari pandangan kita mengenai siapa kita di hadapan sang pacar. Latar belakang keluarga sangat mempengaruhi gambar diri kita. Gambar diri yang sehat adalah gambar diri sesuai yang difirmankan Allah, diantaranya adalah bahwa kita ini berharga sehingga layak untuk dikasihi, dihargai, dilindungi, diperhatikan, didengarkan, dihormati, dipercaya, dsb, karena kita adalah anak-anak Allah, Bapa yang Maha Kasih.
Jangan berkecil hati kalau pacar (atau mantan) tidak bisa memperlakukan kita secara demikian tetapi tanamkan keyakinan bahwa berharap kepada Allah tidak akan pernah mengecewakan. Bagi ego, kekalahan adalah kematian. Jadi ketika dilihatnya sang tuan terpuruk karena dikalahkan oleh sakit hatinya, ego akan mulai menyanyikan lagu-lagu kematian. Waspadai pikiran yang melintas mengatakan kalimat-kalimat seperti ini, “Aku merasa sama sekali tidak berharga. Begitu saja dicampakkan setelah tidak dibutuhkan, “ “Aku memang pantas untuk dibuang,” “Aku memang manusia tidak berguna. Selama ini aku mengira aku masih layak untuk dicintai. Ternyata itu semua cuma mimpi,” dst. Biarkan dulu pikiran tersebut melintas. Tidak usah ditanggapi. Setelah itu baru katakan kebenaran mengenai siapa kita. “Biarlah orang tidak bisa menghargai aku, tapi aku percaya di hadapan Bapa aku adalah anak-Nya yang berharga.” “Biarlah orang merendahkan aku, tapi aku percaya Bapa akan meninggikan aku.” “Biarlah orang menghina aku, tapi aku percaya Bapa akan membelaku,” dst. Cari ayat-ayat di Alkitab yang menguatkan.


3. Mengampuni


Hasil dari mengampuni adalah melupakan atau lebih tepatnya kita tidak lagi sakit hati ketika mengingat peristiwa tsb. Tetapi mengampuni sendiri tidak sama dengan melupakan. Jadi jangan khawatir jika kita tidak bisa melupakan pengalaman yang menyakitkan ini. Mengampuni adalah mengakui bahwa Allah, Bapa kita yang Maha Pengasih, mengetahui dan mengijinkan pengalaman ini untuk terjadi. Bapa melihat, mengawasi dan peduli dengan apa yang terjadi. Ia juga tahu bahwa pengalaman ini menyakitkan tetapi Ia ijinkan terjadi karena Ia ingin menjadikan anak-Nya kuat.
Singkat kata, jika sesuatu Allah ijinkan terjadi, ada kesempurnaan dalam kejadian itu. Siapa kita untuk mengubah jalan ceritanya? Sekarang, ketika hati sedang hancur dan pikiran sedang kacau, kita memang tidak bisa melihat kesempurnaan tersebut. Tetapi nanti setelah kita menguasai pelajarannya, percayalah, kita akan melihat betapa indah dan sempurnanya kasih Bapa. Banyak orang besar dan berhasil mengatakan bahwa bahkan seandainya mereka bisa, mereka tetap tidak akan merubah satu kejadianpun di masa lalunya, meski itu sangat pahit sekalipun. Alasannya adalah bahwa masa lalu yang sulit itulah yang telah menjadikan mereka besar dan kuat.
Sementara itu supaya hati tidak terus-terusan nyeri ketika ingat wajah sang mantan, selalu katakan, “Aku mengasihimu. Terima kasih karena telah memungkinkan aku mengambil pelajaran ini.” Lakukan hal yang sama setiap kali terlintas kata-kata atau perbuatannya yang menyakitkan. Dengan cara ini kita tidak melihatnya sebagai musuh melainkan sebagai seorang teman.
Saya yakin kasih itu indah. Dengan memilih untuk tetap mengasihi apapun yang terjadi, kita menjaga keindahan kasih itu. (A&S)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar